Perkuat Budaya Mutu Berbasis Data, Delapan Sekolah Penerima BOS Kinerja di Keling Ikuti Bimtek SPMI

Jepara, dailymuria.com

Sebanyak 40 guru dari delapan sekolah dasar penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja Tahun 2026 di Kecamatan Keling mengikuti Bimbingan Teknis Sistem Penjaminan Mutu Internal (Bimtek SPMI). Kegiatan yang tergabung dalam Gugus SD Jepara 1 tersebut menjadi momentum bagi sekolah untuk memperkuat pengelolaan pendidikan berbasis data sekaligus membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Jumat (25/9/2026).

Delapan sekolah yang mengikuti kegiatan tersebut yakni SD Negeri 1 Kelet, SD Negeri 1 Ngandong, SD Negeri 1 Jlegong, SD Negeri 3 Jlegong, SD Negeri 2 Watuaji, SD Negeri 2 Damarwulan, SD Negeri 3 Damarwulan, dan SD Negeri 5 Damarwulan. Perwakilan guru dari masing-masing sekolah mengikuti kegiatan secara aktif dengan membawa semangat yang sama, yakni menjadikan hasil pemetaan mutu sebagai dasar untuk merancang program peningkatan kualitas sekolah.

Kegiatan Bimtek SPMI dibuka oleh Koordinator Satkordik Kecamatan Keling, Nuryadi, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pemanfaatan BOS Kinerja tidak hanya dari sisi pelaksanaan kegiatan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya sekolah melakukan perbaikan mutu secara terarah.

“BOS Kinerja hendaknya menjadi momentum bagi sekolah untuk terus melakukan perbaikan berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata satuan pendidikan,” tegas Nuryadi

Hadir sebagai narasumber Bimtek adalah Rohmat Putranto, A.Md., S.S., M.Si., dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan mengenai pentingnya penjaminan mutu sebagai proses yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Sekolah tidak hanya dituntut mampu menjalankan program, tetapi juga perlu memastikan bahwa setiap program memiliki dasar kebutuhan yang jelas serta memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan.

Materi pertama yang diberikan berkaitan dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Peserta diajak memahami standar yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan pendidikan sekaligus melihat posisi sekolah dalam upaya memenuhi dan meningkatkan standar tersebut. Pemahaman terhadap SNP menjadi salah satu pijakan penting agar sekolah memiliki arah yang jelas dalam melakukan evaluasi dan perbaikan.

Materi berikutnya membahas Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) dan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Peserta diperkenalkan pada siklus SPMI yang meliputi pemetaan mutu, penyusunan rencana peningkatan mutu, pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi, serta tindak lanjut. Melalui siklus tersebut, peningkatan mutu diharapkan tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya kerja sekolah.

Hal menarik lainnya adalah pembahasan mengenai Rapor Pendidikan dan keterkaitannya dengan SPMI. Data dalam Rapor Pendidikan diarahkan untuk dibaca dan dianalisis secara lebih mendalam sehingga sekolah dapat mengenali persoalan, menentukan akar masalah, menetapkan prioritas, dan menyusun intervensi yang sesuai. Dengan demikian, Rapor Pendidikan bukan sekadar laporan, melainkan dapat menjadi salah satu instrumen refleksi bagi sekolah dalam menentukan arah perbaikan.

Kegiatan kemudian diarahkan pada penyusunan Rencana Kegiatan Sekolah melalui siklus SPMI berdasarkan hasil analisis Rapor Pendidikan. Para peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk menghubungkan data dengan kebutuhan nyata di sekolah masing-masing. Pendekatan tersebut diharapkan membuat perencanaan sekolah semakin kontekstual, terukur, dan memiliki keterkaitan yang jelas dengan upaya peningkatan mutu pendidikan.

Bimtek SPMI ini memiliki tujuan utama agar setelah mengikuti kegiatan, peserta mampu memahami dan mengimplementasikan siklus SPMI dalam rangka membangun budaya mutu yang berkelanjutan di satuan pendidikan. Delapan sekolah penerima BOS Kinerja di Kecamatan Keling pun diharapkan mampu menjadikan kegiatan ini sebagai titik penguatan untuk terus bergerak dari budaya kerja berbasis kebiasaan menuju budaya mutu berbasis data, refleksi, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Sebab, sekolah bermutu bukan hanya sekolah yang mampu melaksanakan banyak program, tetapi sekolah yang mampu mengetahui kebutuhannya, membaca datanya, melakukan refleksi, dan kemudian menghadirkan perubahan yang nyata bagi peserta didik.

Sumber : Hadepe – Anna Hidayati (SB)

Exit mobile version